Imagine Accepting The Truth

Judul diatas adalah sebuah tulisan yang diambil dari kebun 'tulisan' orang lain
Kebun itu mendeskripsikan senja menuju gelap
Foto-foto yang jarang tersenyum
Dan tulisan-tulisan singkat yang tak bisa dimaknai

Kebun itu menjadi tempatnya menanam
Dan membiarkan oranglain menikmati manis buahnya
memberi kesempatan untuk mengantarkan para kumbang kebun menuju bunga

Tetaplah menjadi kebun yang didambakan malam pekat
dimana mereka bisa menyatukan yang beda


Hallo, Coba Lebih Mengenal dan Menghargai :)

     Sejak aku suka, aku rajin untuk menengok beberapa tulisan di blognya. Dee Lestari, nama itu memang tidak asing, penulis handal dengan beberapa karya nya yang sudah terkenal. Tetapi ada salah satu tulisannya yang membuat saya pribadi agak tersentil.

Tahun 2006, saya membuat blog tanpa pengetahuan blogging sama sekali, bahkan tanpa ketertarikan untuk menseriusinya. Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting. Beberapa rekan penulis juga mengatakan, “Alaah... nggak usah nge-blog! Langsung bikin buku saja.”

Apa yang saya pikirkan?
Saya blogger lokal, saya sering menulis tentang 'saya' dan berujung pada curhat yang remeh temeh
dan saya juga menulis diary yang saya tumpahkan ke dalam blog ini.
"Encer dan nggak penting"

Kali ini saya memang terlalu sensitif.

Tapi seharusnya Dee juga tidak menulis seperti itu. Mungkin saja titik awal Ia menulis berasal dari curahan hati yang 'diare kata-kata' dan lalu di analogi kan dalam suatu cerita pendek. Mungkin, kataku. Aku tidak tahu. Tapi sekali lagi, harusnya Dee tidak menulis seperti itu, karena bukan hanya saya, tapi banyak di luar sana, mereka yang memiliki banyak cerita, pengalaman, atau perasaan dan lalu di tuangkan dalam sebuah tulisan yang hasilnya akan menjadi sebuah cerita yang (mungkin) bertele-tele. Tapi apapun itu, harus tetap  paham bahwa Tulisan adalah gudang ilmu, apapun itu.. dimanapun dan kapanpun... Sebuah Tulisan mampu menjadi jendela untuk kami mengenal dunia, bertukar pikiran, saling menginspirasi serta memotivasi. Jadi, tolong hargai sekecil apapun makna dari tulisan kami. 





Dear :)

Di Malam Hari, Menuju Pagi


Aku sering tersenyum sendiri belakangan ini.
Menikmati hidup yang selama ini menjadi angan-angan.
Angan-anganku sederhana, aku bisa menari dengan senyum terkembang, mempunyai banyak kegiatan yang menyibukkan, ditemani teman-teman yang sangat perhatian.
Aku sangat mensyukuri ini :)

Tetapi, di satu waktu ditengah lamunanku,
tiba-tiba mataku sering buram karena air yang datang dari sela-sela mataku secara tiba-tiba.
Aku berkaca-kaca menahan tangis
Entah, tapi kali ini aku memang sedang dalam banyak tekanan.
Aku mencoba rileks, tapi tetap tidak bisa menghindari, dan aku pun tidak mau menghindari, karena mau tidak mau aku harus menghadapi.
Sederhana, jalani saja.

Semenit yang lalu aku baru selesai membaca satu buku, buku cerita, cerita tentang perjalanan seorang musisi yang mendapatkan masalah kemudian bisa menjalani, lalu keluar dari masalah itu.

Banyak kata dalam kepalaku yang sangat ingin aku sampaikan setelah membaca cerita itu, tetapi karena terlalu banyak dan acak-acakan, aku tidak bisa menulisnya. Mungkin nanti, saat kata itu tersusun rapi dalam kepalaku.

Lagi-lagi aku memutar otak menuju angan-angan.
Aku merasakan bahwa 'moment' sesaat setelah lepas dari masalah itu adalah waktu-waktu yang paling membahagiakan, waktu-waktu yang patut untuk disyukuri. Waktu-waktu saat alam semesta ikut tersenyum seraya mendukung.

Aku berkaca-kaca lagi kali ini.
Entah apa yang aku pikirkan saat menulis ini.





Jatinangor, 2 September 2012, Dini Hari, Ditengah teman-teman tersayang sedang terlelap. 

Pages

Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me

Blog Archive